Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Oktober 2014

Adzan Terakhir Sahabat Bilal




Berikut kutipan kisah yang beredar dan aku tidak tahu siapa penulisnya. Namun sangat menyentuh hatiku.. Begini tulisannya...



Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengkumandankan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: “Biarkan aku jadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya: “Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf. Apakah engkau membebaskanmu karena dirimu apa karena Allah?.” Abu Bakar Ra. hanya terdiam. “Jika engkau membebaskanku karena dirimu, maka aku bersedia jadi muadzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku karena Allah, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar Ra. pun tak bisa lagi mendesak Bilal Ra. untuk kembali mengumandangkan adzan.

Kesedihan sebab ditinggal wafat Nabi Saw., terus mengendap di hati Bilal Ra. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal Ra tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi Saw hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Ya Bilal, wa maa hadzal jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?.” Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi Saw., pada sang kekasih.
Saat itu, dua pemudayang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi Saw., Hasan dan Husein. Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi Saw itu. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal Ra.: “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.” Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Nabi Saw masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi Saw. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Saw. Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama sekaligus adzan terakhirnya Bilal Ra, semenjak Nabi Saw wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan, sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi...
Semoga kita dapat merasakan nikmatnya Rindu dan Cinta kepada Rasulullah saW, seperti rindu dan Cinta yang Allah karuniakan kepada Sahabat Bilal bin Rabah Ra.
Aamiin...
Semoga bermanfaat..

HANYA SEKERAT TULANG

Berikut kutipan sepenggal kisah untuk terus berharap bahwa diri ini bermanfaat bagi saudara-saudaraku...

Tahun lalu, saat prosesi distribusi Qurban di perkampungan lereng Gunung Wilis, Jawa Timur, tatapan saya tak lepas pada keluarga Sartono. Ia membaur di antara ratusan warga yang menunggu giliran jatah sekerat daging qurban hari itu.

Mengapa sekerat? Tiga ekor kambing dari Al-Azhar Peduli Ummat dibagi rata untuk 200 keluarga. Bahkan kulit kambing yang bagi sebagian masyarakat dijual murah begitu saja, ikut dibersihkan bulunya kemudian dicacah kecil-kecil hingga terbagi rata. Pada saat prosesi ini, siapapun yang menyaksikan tak kuat menahan haru.

Tiba giliran Sartono mengambil sejumput daging yang terbungkus daun pisang. Petani yang sehari-hari menggarap lahan hutan itu, kemudian bergegas pulang ke rumahnya. Di halaman, tiga anak sartono yang masih kecil menyerbu girang.

“Iwak wedhus yo pak, enak to pak”, (daging kambing ya pak, enak kan pak) cecar anak pertama Sartono yang duduk di bangku SD kelas 4.

Sartono hanya mesem, kemudian menyerahkan bungkusan daun pisang itu pada istrinya. Anak-anak Sartono tak mau jauh sejengkal pun, dari bungkusan itu. Bahkan saat ibunya menyiapkan perapian di tungku dapur yang terbuat dari tanah liat, ketiga anak Sartono setia menunggui. Mereka seakan tak rela, jika seekor lalat pun hinggap.

Di atas tungku dapur, istri Sartono merebus air di dalam panci yang sudah tampak usang. Kemudian bungkusan itu dibuka, tanpa dicuci lebih dulu. Tampak sejimpit daging, ditimpali potongan tulang. Jika ditimbang, tak lebih dari seperempat kg. Amat sedikit, jika dimakan satu orang saja kurang. Tak ada bumbu istimewa diracik, hanya garam dan bawang merah.

Suasana jadi merinding, saat anak-anak Sartono tak beringsut dari tungku dapur. Marno, anak nomor dua bahkan menundukkan wajahnya tepat di atas panci. Kemudian ia mengisap dalam-dalam asap dari dalam panci yang berbau kuah kambing itu.

“Hmmm, seger yo kang. Enak. Jajalo!”, (segar ya mas. Enak. Cobalah) kata Marno pada kakaknya. Tak lama kemudian, sang kakak mengikuti saran adiknya. Kemudian diikuti adiknya yang paling kecil.

“Iyo enak. Wedhus teko ngendi to pake”, (iya enak. Kambing dari mana pak) tanya anak tertua Sartono padanya.

“Wong Jakarta”, (orang Jakarta) jawab Sartono singkat. Sekilas, lelaki paruh baya itu matanya berkaca-kaca.

“Mohon dimaklumi anak-anak saya mas. Malu saya, maklum bocah gunungnggak pernah makan daging”, Sartono berusaha menjelaskan.

Setelah satu jam berlalu, istri Sartono memberi isyarat masakan sudah matang. Saat itulah, anak-anak sartono meninggalkan sekerat tulang yang direbus itu dari sejak ayahnya datang. Mereka berburu mengambil piring. Di atas lantai tanah, anak-anak itu duduk bersila menunggu Sang Ibu membagi kuah dan keratan tulang kambing.

Di atas piring sudah diisi nasi tiwul tanpa campuran beras sedikit pun. Tiwul (nasi dari singkong kering) masih jadi makanan pokok, bagi sebagian masyarakat di lereng Gunung Wilis. Menyaksikan anak-anak Sartono makan, begitu lahapnya. Tak ketinggalan istri Sartono juga ikut bergabung. Disusul kemudian Sartono sendiri menyantap menu qurban hari itu. Saya memilih makan nasi tiwul, ditemani sambel teri dan lalapan daun singkong masakan istri Sartono. Sungguh nikmat, meski haru mencabik-cabik.

Makan siang usai. Tapi, lagi-lagi ada yang janggal. Menengok piring makan anak-anak Sartono masih menyisakan keratan tulang. Hanya suiran daging sedikt yang dimakan. Mendadak, Marno yang paling banyak ngomongnya nyeletuk.

“Mak, disimpen gae makan mengko sore yo. Ojo ilang lo”, (bu disimpan buat makan nanti sore. Jangan hilang ya) tenggorokan saya terasa tercekat. Mendadak ingat daging yang melimpah di Arab Saudi melengkapi prosesi haji. Juga terbayang pesta daging qurban di kota-kota besar yang orang kaya pun ikut menikmati.

Siang itu, raut wajah gembira tersaji murni. Senyum simpul anak-anak Sartono nyaris sulit ditulis. Tapi, cerita ini harus saya bagi dengan Anda semua. Bahwa sekerat daging bisa jadi bagi kita tak berarti, tapi bagi keluarga Sartono sepotong tulang pun asupan gizi yang tak tentu setahun sekali dinikmati.

Maka, pilihan qurban Anda ke daerah-daerah miskin dan terpencil adalah pilihan tepat, sarat silaturahim dan manfaat. Wallahu’alam.

Sunaryo Adhiatmoko
sumber : afra kids

Sabtu, 28 Juli 2012

- AKU -

Syaitan diturunkan ke bumi karena kata "AKU"
Fir'aun ditelan belahan laut karena kata "AKU"
Qarun lenyap tertimbun hartanya sendiri karena kata "AKU"

Hati-hati bila diri merasa lebih baik dari orang lain...
Semoga kita mati dalam kondisi khusnul khotimah....

Aamiin...

Hatyai, 28 Juli 2012

Minggu, 22 Juli 2012

Benarkah kita beriman?

Ada berapa rukun iman? 

Rukun iman ada 6. No 1-5 mudah sekali untuk mengimaninya, namun no. 6 tidak semua benar-benar mengimani, krn sering orang mempertanyakan mengapa bernasib seperti ini. Setan pun diturunkan ke bumi karena protes kepada keputusan Allah.

Kecewa adalah mempertanyakan keputusan Allah (MT).

Hatyai, 22 Juli 2012

TAZKIYATUN NAFS

Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Salah satu penyakit hati yang wajib diwaspadai:


"Merasa (paling) berjasa"

Bro/Sis, hati-hati yuuuk...

Hatyai, 22 Juli 2012

Selasa, 26 Juni 2012

Philosophy oh philosophy!!!

Learning about philosophy....
At the first time, it made me headache!!! Confusing with many terms that should be clarify. Belief.... Value... Science... Many arguments about what is believed as the truth....

Until, one day, a lecturer (Ajarn in Thai language) tought us about it. His name is Ajarn Suthorn, the dean of Science Faculty in Biology area. He provided us many questions to be answered. What are philosophy, science, theology. This question made my mind opened.


"Philosophy is between theology and science" whereas in theology, human must accept every single belief without questioning whether it is true or not. On the other side, science always seek the truth with reasoning. It comes from "skeptic thinking" that means always doubting everything as a truth. And philosophy becomes the bridge between them. Regarding this issue, I BELIEVE THAT ISLAM IS PHILOSOPHY, THEOLOGY, AND SCIENCE. Masha Allah! How perfect this religion since all of the aspects is can be explained. ^_^

Other topic that Ajarn explained is about "scientific attitude". Scientific mean that we can prove that something is exist by human senses. However, frequently human make many mistakes in interpreting a phenomenon because of emotion role. And to be a wise person, we have to always clarify the data we got in order to think objectively and finally can produce an appropriate attitude called "scientific attitude".

One other terminology that I first time heard is "no man land". This means that no one occupy a specific matter. In analogical point is just like badminton or tennis players. They will find area that their rival cannot reach it. That is similar to research question. Try to find area that previous researchers did not find the answer. In addition, for me, it can be implied in our future success. We can find our success from other way that people never walk on this way. 

Anyway, I become loving the philosophy since I can learn many perception about truth. Everyone can be true based on her/his philosophy of life.  ^_^

Hatyai, June 26, 2012

Senin, 04 Juni 2012

Bismillah....

Membuka cakrawala,
Menuliskan kata-kata cinta di awan,
Membentangkan kenisbian langkah-langkah sayang.
Alunan peluh perindu tlah kupinang kekasihku.
Dalam jalanmu membawaku terbang di angkasa-Mu.
Bismillah ^_^

(Jkt, 05.05.2012, 07.47)

Sabtu, 02 Juni 2012

DARI BUMI UNTUK LANGIT

http://www.youtube.com/watch?v=uKhFdIrDtlI

PERSEMBAHAN DARI BUMI

(by Icha)

Aku berjalan di gelapnya malam

Tanpa tahu kemana tujuan arah mana yg akan ku tempuh

Dan aku tersesat dalam diriku sendiri

Entah harus bagaimana lagi

Kulawan hatiku ini

Terimalah persembahanku

Dari bumi untukMU Langit

Hanya ini yang bisa ku beri

Dari sisi lain hatiku

Jangan pernah tinggalkan aku

Bumi mohonkan petunjukMU

Kemana lagi tempat berlindung?

Jika tak dalam pelukMU


(Sebuah syair lagu kenangan selama perjuangan menjadi relawan di Aceh)


Minggu, 27 Mei 2012

Ta'lim Ngajikhun "Ta'winu rukhul jamaah=membentuk semangat berjamaah"

Masha Allah.... baru pertama kali ikut kajian Islam selama menempuh studi di Negeri Siam ini. Walau dihadiri segelintir mahasiswa sesama penuntut ilmu, diskusi tetap berjalan. Ta'lim diisi dari dua orang brother asal Iran dan diawali dengan fenomena penambahan jumlah muslim di dunia termasuk di Thailand yang berlipat ganda dari Pak Dion. Pertanyaannya sekarang, apakah bertambahnya jumlah muslim ini sejalan dengan bertambahnya kekuatan muslim? Sedangkan musuh-musuh Islam tetap berusaha menyerang secara halus. 

Well, ta'lim diawali dengan pertanyaan awal dari salah satu brother dr Iran itu (saya lupa namanya), "Sekarang masalahnya apa?" Wah, jadi bingung nih. Biasanya kan kalo ta'lim cuma dengerin. Ternyata.... Metode ta'lim yang diterapkan adalah dengan diskusi aktif. Jadi bingung juga dari mana mulainya. Apalagi saya tidak datang padaa pertemuan sebelumnya (ini kelanjutannya-red). Jadinya yang bicara hanya orang-orang tertentu saja hehe....

Pertanyaan stimulan yg dilemparkan adalah mengapa Allah ingin kita berpegang teguh pada tuntunan Allah? Harus selalu on the track (shirathal al-mustaqim). Jawabannya adalah.... apabila sedikit saja ada deviasi (sudut simpangan) dari shirathal al-mustaqim, maka lama-kelamaan simpangannya akan melebar. Hm... belajar untuk tetap berpegang teguh pada buhul (tali) Allah memang menjadi prinsip evaluasi terbaik seberapa menyimpangkah kita?

Hal yang menarik adalah ketika dijabarkan bahwa Islam akan terpecah menjadi 72 golongan, siapakah yang dijamin masuk syurga? Apakah aliran2 tertentu saja? Ulasan menarik yang disampaikan adalah bahwa orang-orang dari golongan tertentu juga kemungkinan ada yang mendapatkan tradisi2 agama dari leluhurnya. Sedangkan ketakwaan hanya Allah yang tahu. Atau mungkinkah kita yang merasa pada Islam yang sebenarnya juga dijamin masuk surga? Wallahu'alam... 

Musuh Islam tidak pernah takut kepada muslim secara individual, namun takut pada persatuan ummat muslim. Muslim harus bertaut secara hati, tidak hanya secara fisik karena tak jarang muslim dekat secara fisik dalam suatu forum or jamaah tapi hati-hatinya saling bertentangan. Bayanganku melayang dalam dunia kerja yang sering kali saling bersinggungan, kadang tidak mau memikirkan keadaan temannya. Misalnya dengan saling melempar pekerjaan, apalagi pada teman yang tak kuasa menolaknya. Na'udzubillah...

Beberapa tips yang diberikan oleh salah satu brother kita ini, yaitu :
1. Find your self
2. Evaluate your self
3. Introduce yourself to Islam again
4. Material and method related to this evaluation
5. Result and check up with Al Qur'an
6. Prepare, plan, program for next action
7. Tawakul
8. Start.
Bila kita cermati, semua berawal dari diri sendiri. 

Jika kita tidak dijamin masuk surga, pantaskah kita menghakimi muslim lain misalnya yang berbeda mazhab dengan kita yang notabe saudara kita? Apakah kita yang sering memberi penilaian negatif pada orang lain itu lebih baik dari orang yang kita negatif? Semoga menjadi refleksi diri yang baik untuk saling menghargai orang lain dengan keyakinannya karena MUSLIM HARUS BERSATU!

"Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan
keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan."

Wallahu'alam bishshowab...